Sistem Deteksi Dini dan Respons Cepat Kebakaran Ala APRIL

Sistem Deteksi Dini dan Respons Cepat Kebakaran Ala APRIL

Image Source: APRIL

Kerugian akibat kebakaran lahan dan hutan begitu besar. Siapa pun tentu tidak mau mengalaminya. Maka, respons cepat terhadap api yang berkobar perlu dimiliki. Inilah yang sedang dikembangkan oleh APRIL Group dengan memanfaatkan teknologi dari NASA.

APRIL Group dikenal sebagai perusahaan produsen pulp dan kertas terkemuka. Mereka memiliki basis operasi di Pangkalan Kerinci, Riau. Di sana APRIL memiliki pabrik dan hutan tanaman industri yang dikelola dengan sistem berkelanjutan.

Untuk mendapatkan bahan baku pulp dan kertas, APRIL Indonesia menanam pohon akasia. Nantinya kayu akasia itulah yang diproses untuk menjadi pulp dan kertas.

Produk-produk APRIL Indonesia sudah sanggup menembus pasar internasional. Salah satunya kertas bermerek Paper One. Produk ini telah diekspor ke 70 negara dengan fokus di Asia Pasifik, Australia, dan Tiongkok. Namun, belakangan APRIL Group berencana memperluas jangkauan pasar ke kawasan Eropa.

Sebagai perusahaan yang berbasis sumber daya alam, APRIL Asia tahu persis ancaman kerugian besar yang ditimbulkan akibat kebakaran. Tidak ada keuntungan sama sekali yang akan diperoleh ketika api liar melahap lahan dan hutan.

Mengapa bisa seperti itu? Bagi APRIL Indonesia, hutan tanaman industri adalah aset bisnis yang krusial. Kalau kebakaran muncul, pepohonan yang ditanam akan rusak. Tentu saja ini berdampak besar nilai ekonomis dan produktif lahan bakal berkurang drastis.

Kerugian lain masih akan didapat jika kebakaran hutan terjadi. Nutrisi tanah bisa berkurang sehingga pohon tidak mampu tumbuh besar. Selain itu, kualitas air dipastikan terganggu. Semua masih ditambah dengan ancaman erosi tanah yang membayangi. Akibatnya sistem pengelolaan hutan tanaman industri yang berkelanjutan rawan terganggu.

Dampak negatif bagi kesehatan manusia juga mengikuti ketika kebakaran hadir. Kabut asap yang mengganggu pernapasan sering muncul. Hal itu jelas mengurangi produktivitas karyawan APRIL maupun masyarakat secara umum.

Melihat semua kerugian yang membayangi, APRIL Group tentu tidak mau kebakaran terjadi. Mereka pun melakukan beragam upaya untuk meminimalkannya. Salah satunya dengan menciptakan sistem deteksi dini dan respons cepat. Tujuannya supaya ketika bencana kebakaran hadir, api tidak menjalar lebih luas dan segera bisa dipadamkan.

Dalam mengkreasi sistem deteksi dini, APRIL Indonesia menggunakan teknologi satelit yang dimiliki oleh NASA. Satelit tersebut mampu memindai sejumlah titik panas. Ketika ada titik panas yang muncul, laporan segera dikirimkan ke APRIL yang akan melakukan pengecekan di lapangan secara langsung.

Ada dua instrumen satelit yang dimanfaatkan oleh APRIL Group, yakni MODIS dan VIIRS. Keduanya merupakan pencitraan berbasis satelit dari platform yang dimiliki NASA. Dengan sebuah algoritma titik panas tertentu, NASA dapat mengirimkan data lewat sebuah layanan yang disebut Fire Information for Resource Management System (FIRMS) dalam kisaran tiga jam sesudah melewati area konsesi milik APRIL. Data itu berupa analisis titik panas yang muncul.

Terdapat perbedaan sistem kerja antara instumen MODIS dan VIIRS. MODIS berada di satelit AQUA dan TERRA milik NASA. Instrumen tersebut mampu mengidentifikasi titik panas berdasarkan suhunya.

MODIS nanti akan menngirfomasikan area dengan suhu 37 derajat Celsius pada malam hari atau 42 derajat Celsius pada siang hari. Kisaran luas area yang direkam mencapai 1,1 kilometer. Luas inilah yang dicek secara langsung oleh tim APRIL untuk menemukan apakah ada api secara pasti.

Sementara itu, VIIRS memanfaatkan teknologi inframerah. Sama seperti MODIS, VIIRS juga mengidentifikasi titik panas. Namun rentang area yang dicakup oleh VIIRS lebih kecil, yakni sekitar 375 meter. Area ini yang perlu dilihat oleh tim reaksi cepat APRIL Group untuk memastikan keberadaan api.

Setiap hari APRIL mendapat unduhan data satelit. Di dalamnya tercakup data seluruh titik panas terbaru dengan lokasi garis lintang dan bujur yang berada di dalam atau berdekatan dengan area konsesi.

Sesudahnya, tim perencanaan APRIL Asia menganalisis data dan memetakan informasi lokasi garis lintang dan bujur dari titik-titik panas tersebut. Hasilnya akan dikirim ke Tim Perlindungan dan Kebakaran masing-masing Estate. Mereka kemudian melakukan verifikasi lapangan di setiap area titik panas tersebut.

RESPONS CEPAT YANG DILAKUKAN

RESPONS CEPAT YANG DILAKUKAN

Image Source: APRIL

Kondisi yang dihadapi tim deteksi dini APRIL setiap hari berbeda-beda. Mereka bisa mendapatkan sejumlah titik panas dalam satu hari. Namun, bisa pula tidak ada titik yang terindentifikasi sama sekali.

Meski begitu, kewaspadaan tinggi tetap dilakukan oleh APRIL Group. Apalagi ketika musim kemarau tiba. Saat itu, tingkat kebakaran cenderung meningkat seiring cuaca yang memanas.

Ketika akhirnya ada titik panas yang terindentifikasi, Tim Perlindungan dan Kebakaran Estate APRIL segera bergerak menuju lokasi. Mereka memanfaatkan Global Positioning System untuk melacak titik panas yang dilaporkan oleh Tim Perencanaan.

Praktiknya tidak selalu mudah. Terkadang tim APRIL harus berkendara selama beberapa jam untuk menuju lokasi titik panas. Pasalnya, kondisi jalanan sering tidak bersahabat.

Bukan hal aneh pula ketika tim APRIL Group menemui lokasi terpencil yang sangat sulit diakses. Jika kondisi seperti ini dialami, drone dapat dimanfaatkan. Drone diterbangkan untuk memantau bentang alam kawasan yang terdapat titik api.

Selain drone, APRIL juga sudah menyiapkan helikopter yang siaga setiap saat. Helikopter biasanya digunakan jika terdapat banyak sekali titik panas yang terpantau. Dengan pengamatan udara melalui helikopter, gambaran komplet tentang suatu kawasan bisa diperoleh.

APRIL juga menyiapkan tim yang secara khusus melakukan patroli ke sejumlah kawasan dengan rutin. Mereka bersiaga di 23 perkebunan dan di sejumlah area di dekat kawasan konsesi milik APRIL.

Kerjasama dengan pemerintah dan masyarakat dilakukan oleh APRIL Group untuk melengkapi sistem deteksi dini maupun respons cepat kebakaran. APRIL Asia menjalin kesepakatan dengan Badan Penanggulangan Bencana Provinsi Riau dalam mengatasi kebakaran. Keduanya saling bahu-membahu ketika memadamkan api yang menjalar.

Sementara itu, kerja sama dengan masyarakat dilakukan APRIL dalam dua bentuk. Pertama, APRIL Group membuka saluran Sambungan Langsung Kebakaran yang dapat dihubungi dalam 24 jam. Masyarakat diharapkan memanfaatkan ketika melihat titik api di sekitar mereka.

Sedangkan yang kedua, APRIL Indonesia menggelar pelatihan pemadam kebakaran bagi 630 relawan di 39 desa di Riau. Dengan bekal latihan yang memadai, para relawan diyakini bisa memiliki kemampuan memadamkan api. Itu akan sangat membantu untuk mencegah api agar tidak menjalar lebih besar.

Dalam upaya merespons kebakaran dengan cepat, APRIL menyiapkan 700 orang yang menjadi anggota Tim Reaksi Cepat. Selain itu, ada pula 260 orang pemadam kebakaran terlatih, 22 kelompok pencegahan dan pengendali kebakaran berbasis masyarakat.

Mereka semua dibekali dukungan dana dan alat yang memadai dari APRIL. Selain helikopter, APRIL juga menyiapkan dua kapal amfibi. Selain itu, ada 215 pompa air yang khusus dipakai untuk memadamkam api.

Biaya operasional tim penanggulangan kebakaran APRIL terbilang tinggi. Setiap tahun tak kurang dari 2 juta dollar Amerika Serikat dikeluarkan untuk operasional. Namun, APRIL Group terus berkomitmen melakukannya. Semua demi menghilangkan kebakaran yang dirasa jauh lebih merugikan.