Pengorbanan Sukanto Tanoto Demi Mencapai Sukses

Pengorbanan Sukanto Tanoto Demi Mencapai Sukses

No pain, no gain. Terdengar klise, tapi memang seperti itulah adanya. Untuk mendapatkan sesuatu pasti butuh pengorbanan, apa pun itu bentuknya. Seperti itu juga yang dirasakan oleh pengusaha ternama Sukanto Tanoto dalam meraih kesuksesan seperti sekarang.

Melihat sosok Sukanto Tanoto saat ini pasti banyak pihak yang ingin seperti dirinya. Bayangkan saja, pada usia 26 tahun, pria kelahiran 25 Desember 1949 ini sudah menjadi miliuner. Siapa yang tidak tergiur?

Kini, seiring dengan perkembangan usianya, Sukanto Tanoto kian berkibar dalam dunia bisnis. Ia dikenal sebagai pemimpin sekaligus pendiri grup Royal Golden Eagle yang ditaksir memiliki aset senilai 18 miliar dollar Amerika Serikat.

Hal itu lumrah saja bagi Sukanto Tanoto. Maklum, Royal Golden Eagle merupakan korporasi skala internasional dengan 50 ribu karyawan lebih. Mereka tidak hanya beroperasi di Indonesia. Royal Golden Eagle telah melakukan ekspansi bisnis hingga ke Singapura, Malaysia, Filipina, Brasil, Kanada, Tiongkok, hingga Finlandia.

Belum lagi ragam bidang usahanya yang memperkuat citra Sukanto Tanoto sebagai pengusaha jempolan. Berbagai perusahaan di bawah naungan Royal Golden Eagle ada yang beroperasi dalam industri kayu lapis, kelapa sawit, energi, serat viscose, hingga pulp and paper, hal mana menandakan Sukanto Tanoto bagai memiliki sentuhan Midas dalam berbisnis. Apa pun yang dikelolanya dapat berbuah manis menjadi bisnis yang sukses.

Dalam menjalankan bisnisnya, Sukanto Tanoto ternyata melakukan pengorbanan besar. Banyak hal termasuk mimpi masa kecil yang mesti direlakannya menghilang begitu saja. Belum lagi tuntutan untuk bekerja keras terus-menerus.

Seperti anak-anak pada umumnya, pria kelahiran Belawan ini memiliki cita-cita yang ingin diraih. Ternyata ia tak bermimpi menjadi pengusaha seperti sekarang. Sukanto Tanoto justru ingin menjadi dokter.

Namun, impiannya kandas sebelum berkembang. Pada 1966, sekolahnya ditutup. Ia pun tidak bisa meneruskan bersekolah karena ayahnya masih berstatus sebagai warga negara asing.

Bagai jatuh tertimpa tangga, tak lama berselang ayahnya jatuh sakit. Sebagai anak sulung dari keluarga besar, mau tak mau Sukanto Tanoto mengambil tanggung jawab. Ia harus mengelola usaha kecil keluarga berupa toko onderdil mobil, bensin, dan minyak. Belakangan hal ini diakuinya sebagai pengorbanan pahit yang mesti dijalaninya.

“Saya ingin menjadi dokter ketika saya muda, tapi harus berhenti sekolah untuk bekerja dan mendukung keluarga saya pada usia 17 tahun. Saya tidak mempunyai kesempatan untuk menerima pendidikan yang pantas begitu saya mulai bekerja,” ucap Sukanto Tanoto.

Meski begitu, tidak ada rasa sakit hati sedikit pun terhadap sesama anggota keluarganya yang lain. Ia justru bersyukur karena terjun dalam dunia kerja sejak usia dini ternyata berguna dalam menempa dirinya sebagai pengusaha andal.

Sukanto menunjukkannya dengan membiayai sekolah adik-adiknya. “Setelah membangun sebuah bisnis yang sukses, saya berhasil mengirim adik laki-laki saya ke Singapura untuk mendapat pendidikan terbaik,” kisah Sukanto Tanoto.

MENGEJAR PENDIDIKAN

Putus sekolah membuat Sukanto Tanoto tak mendapatkan pendidikan terbaik. Namun, ia tak putus asa. Sebisa mungkin, ia selalu mengejar pendidikan lewat beragam cara.

Ketika masih belum punya biaya untuk sekolah, ia selalu belajar sendiri. Salah satu yang fenomenal adalah kemampuan berbahasa Inggris yang dimilikinya ternyata hasil belajar otodidak. Sukanto Tanoto hanya memanfaatkan kamus Tiongkok-Inggris yang dimilikinya untuk mempelajarinya.

Selain itu, Sukanto Tanoto mengompensasi akses pendidikannya yang putus dengan rajin membaca buku. Berbagai buku ia lahap. Bahkan, saat sudah menjadi pemimpin Royal Golden Eagle, Sukanto Tanoto selalu mencari waktu untuk membaca buku. Hal itu biasanya dilakukannya di sela-sela perjalanan bisnis yang dilakukannya.

Bagi Sukanto Tanoto, buku adalah sumber ilmu. Maka, ia memandangnya sebagai akses ke pendidikan seperti halnya sekolah yang sempat tidak ia rasakan.

“Seperti pepatah lama, tidak ada akhir untuk belajar dan pengetahuan tidaklah terbatas. Meski saya tidak bisa menyelesaikan pendidikan saya di sekolah, saya sangat suka membaca sejak saya masih muda,” ucap Sukanto Tanoto. “Saya berharap memperoleh lebih banyak pengetahuan melalui buku, karena saya tidak memiliki akses selama tahun-tahun sekolah saya.”

Ada berbaga jenis buku yang digemari oleh Sukanto Tanoto. Ia senang membaca novel, biografi selebriti, dan orang-orang kaya. Namun, belakangan, Sukanto Tanoto lebih menyukai mempelajari peradaban kuno dan membaca buku-buku yang berkaitan dengan filosofi, sejarah, dan sastra.

Selain itu, sebagai “balas dendam” terhadap pengorbanannya karena mesti putus sekolah, Sukanto Tanoto membuat kompensasi positif. Ia mendirikan Tanoto Foundation bersama istrinya, Tinah Bingei Tanoto, pada 1981. Yayasan sosial ini dijadikannya sebagai sarana untuk mempermudah akses pendidikan bagi khalayak agar tidak seperti dirinya yang pernah tidak sekolah.

Ketika akhirnya bisnisnya berkembang dan mampu membiayai pendidikan, Sukanto Tanoto tak menyia-nyiakannya. Ia segera meneruskan sekolah ke berbagai institusi pendidikan bisnis terkemuka di dunia seperti The Wharton School dan INSEAD.

“Saya pun mengikuti berbagai kursus di sekolah-sekolah bisnis terkenal di dunia selama tiga minggu setiap tahun. Selain itu, saya mengambil kursus singkat di berbagai universitas terkenal di seluruh dunia. Hal ini dapat membantu menebus pengorbanan saya dikarenakan berhenti sekolah ketika masih sangat muda untuk mendukung keluarga saya,” ucap Sukanto Tanoto.

MAU BEKERJA KERAS DAN TEKUN

Harus putus sekolah dan mau bekerja dalam usia muda bukan satu-satunya pengorbanan yang dirasakan oleh Sukanto Tanoto dalam menapaki tangga kesuksesan. Ia juga harus mau bekerja keras dan bisa menjaga ketekunan sepanjang hidupnya.

Beruntung dua hal tersebut bisa dipandangnya secara positif. Sukanto Tanoto malah menilainya sebagai prinsip hidup yang mesti dipegang secara teguh. Katanya, “Hanya ada dua faktor utama yang mengarah terhadap kesuksesan dalam karier seseorang. Pertama adalah ketekunan dan yang lainnya adalah keberuntungan. Dalam sebagian besar waktu, usaha manusia memainkan peran yang menentukan antara keberhasilan dan kegagalan.”

Maka, kerja keras terus dilakukan oleh Sukanto Tanoto. Lihat saja perjalanan bisnisnya dalam mengembangkan Royal Golden Eagle. Semua bidang usaha yang digelutinya saat ini merupakan bidang baru baginya. Ia tak pernah punya pengalaman sebelumnya.

Tengoklah usaha kayu lapis yang dirintisnya. Mana ada latar belakang pendidikan bidang tersebut yang dikecapnya? Hal serupa sama saja bagi semua bidang bisnisnya yang lain mulai dari kelapa sawit, pulp and paper, energi, sampai serat viscose.

Bagaimana Sukanto Tanoto bisa melakukannya? Triknya ternyata hanya kerja keras dan kemauan untuk tekun dalam bekerja. Mengatakannya mudah, namun melakukannya secara nyata sangat sulit. Namun, Sukanto Tanoto selalu rela menjalaninya. Ini yang akhirnya membuat kesuksesan datang menghampiri.

“Lebih penting lagi, saya selalu rajin dan hemat, bekerja keras dalam bisnis saya. Saya percaya pada kerja keras untuk mencapai sesuatu. Pasalnya, keberuntungan melibatkan waktu yang tepat, lingkungan yang kondusif, dan faktor manusia. Ketiga faktor tersebut harus datang bersamaan, barulah keberuntungan terjadi,” ucap Sukanto Tanoto.

Maka, sebenarnya siapa saja bisa meraih kesuksesan dalam hidup. Kisah Sukanto Tanoto dapat dijadikan inspirasi. Asalkan mau bekerja keras dan berkorban dalam hidup, niscaya keberhasilan akan datang menghampiri.